NTT BICARA.COM, KUPANG – Tak tahan dibully, Timothy Anugerah Saputra , mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana, Denpasar Bali mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai empat kampus itu.
Kepergian Timothy menyisahkan duka mendalam bagi keluarga dan sahabat kenalannya. Duka itu pun ditulis Ignasius Rudolf pada laman facebooknya, seperti dikutip NTT BICARA.COM, Minggu, 19 Oktober 2025.
Langit Denpasar belum sepenuhnya cerah, tapi langkah-langkah mahasiswa sudah memenuhi halaman Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana. Di antara keramaian itu, seorang mahasiswa bernama Timothy Anugerah Saputra,berjalan pelan menuju gedung FISIP Kampus Sudirman. Ia tampak diam — terlalu diam untuk seorang anak muda yang biasanya dikenal ramah dan berwawasan luas.
Tak banyak yang tahu, di balik senyum sopan dan suara lembutnya, Timothy sudah lama menanggung luka — bukan luka di tubuh, tapi di hati. Luka yang ditoreh oleh teman-teman sekelasnya sendiri. Mereka menertawakannya, mengejek penampilannya, mempermalukannya di depan umum, bahkan di dunia maya. Mereka menyebutnya dengan nama-nama yang tak pantas, memperlakukan dirinya seperti bahan lelucon.
Hari itu, Timothy datang bukan untuk kuliah. Ia datang dengan langkah berat, menatap gedung lantai dua yang selama ini menjadi saksi tawa teman-temannya. Barangkali di dalam dirinya sudah tak ada lagi ruang untuk menahan sakit.
Sekitar pukul 09.00 WITA, suara keras memecah suasana kampus. Tubuh Timothy ditemukan tergeletak di bawah gedung FISIP. Panik. Jeritan. Tangisan. Namun semuanya sudah terlambat. Ia masih bernapas ketika dibawa ke rumah sakit, tapi luka patah tulang di lengan kanan, paha kanan, dan tulang panggulnya terlalu parah. Tak lama kemudian, Timothy dinyatakan meninggal dunia.
Kabar kematiannya menyebar cepat. Mahasiswa FISIP berduka, dosen-dosen terdiam. Tapi duka itu berubah jadi kemarahan ketika terungkap penyebabnya — Timothy diduga bunuh diri karena tak tahan dengan perundungan. Yang lebih menyayat, pelaku bullying-nya bukan orang asing. Mereka adalah rekan sekelas, bahkan beberapa di antaranya pengurus organisasi kemahasiswaan — Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra.
Alih-alih merasa bersalah, beberapa pelaku justru masih sempat menertawakan kematian Timothy di grup WhatsApp. Foto tubuh Timothy yang tergeletak di tanah disebarkan dengan candaan kejam, disamakan dengan konten kreator Kekeyi — seolah nyawa manusia tak lebih berharga dari bahan olok-olok murahan.
Universitas akhirnya turun tangan. Sanksi dijatuhkan semua pelaku tidak diluluskan untuk semester ini dan diwajibkan membuat video permintaan maaf. Tapi bisakah itu menebus kehilangan? Bisakah itu menghapus trauma keluarga yang kini harus hidup tanpa anak mereka?
Di rumahnya, ibu Timothy masih sering duduk di kamar anaknya. Di atas meja belajar, buku-buku kuliah masih tertata rapi, seolah menunggu tangan lembut Timothy untuk membukanya kembali. Di dinding, tergantung foto wisuda kakaknya — yang dulu jadi motivasi Timothy untuk terus berjuang.
Kini semua impian itu berhenti di lantai dua gedung FISIP.
Hanya sepi yang tersisa, dan pertanyaan yang tak pernah terjawab:
Mengapa teman bisa berubah menjadi pelaku?
Mengapa tawa bisa membunuh diam-diam?
Dan, di setiap sudut kampus Sudirman, gema langkah Timothy seolah masih terdengar — langkah terakhir seorang mahasiswa yang hanya ingin diterima, tapi malah disakiti.(*/gem)






































